Monday, June 22, 2015

Day 7: The Kiddos at "Yes It is Me!"

Posted by Tabita Davinia at Monday, June 22, 2015


Beberapa hari yang lalu (Sabtu-Minggu, 20-21 Juli 2015), aku ngikutin retreat anak-anak sekolah minggu (jadi pembimbing nih :p) di Karangpandan, deketnya Tawangmangu. Pembicara untuk retreat ini dari Tim Griya Pelikan (mungkin bisa jadi tempat buat aku belajar banyak kali ya, setelah kuliah nanti #ups :p hehe), Solo.


As a whole, acaranya seru sih. Terutama waktu jalan-jalan itu (tetepajamasihpengenikutanyangpersekkemarenaaakkkkk). Hahaha. Tapi yang bikin aku terkesan sama retreat ini adalah anak-anak yang ikutan retreat ini :)) mengingatkanku betapa mereka itu bener-bener unik...
Audrey-Joan-Laura :D


Aku 1 kamar sama 3 anak dari Pos Jemaat Solo Baru (Laura, Joan, Audrey). Laura tahun depan udah mau UN SMP, sedangkan Joan sama Audrey juga bakal UN SD. Hehe. Walaupun umur mereka selisihnya lumayan jauh (3 taunan), tapi mereka bisa ngobrol bareng, gojek bareng... aih, kompaknyaa :) wkwkwk

Disuruh bikin puisi tentang pemandangan
Sempet-sempetnya Mama motret :'D
Di kelompok jalan-jalan dan kreativitas, aku jadi pembimbing kelompok 'Stefanus' (1 anak yang ngusulin sih tapi wkwk). Yel-yelnya juga bingung mau dibikin gimana. Tapi seneng sih, bisa ngebimbing mereka :D Ada Denny (ketua kelompok wkwkwk), Vallerie, Elvina, Canda, Aril, Nona, Willy, David, dan Joceline (FYI, Joceline ini ternyata temennya adik keduaku :p what a small world hahaha). Masing-masing dari mereka punya sifat-sifat yang unik (well, termasuk ngomel :p wakakakaka #pok). Walopun begitu, mereka bisa kerjasama, bisa ngobrol-ngobrol gitu... hehe.

Melewati jaring-jaring sambil
gandengan :p
 Bukan cuma itu, di balik keceriaan setiap anak yang ikut retreat ini, sebenarnya ada banyak masalah yang sedang mereka hadapi. Kebanyakan mereka punya masalah di sekolah (dengan teman-teman, bahkan guru mereka). Tapi nggak sedikit juga yang punya masalah dengan keluarga mereka. Dan ternyata, sadar ato nggak sadar, anak-anak ini bisa menyimpan perasaan terluka itu terlalu lama. Mereka nggak tahu harus cerita sama siapa. Cerita sama orangtua, eh merekanya malah dimarahin. Cerita sama temen, eh malah jadi bahan gosip. Where shall they tell about their problems now...?

Sebagai orang yang udah lebih dewasa, kita tahu kalo kita bisa cerita sama Tuhan tentang masalah yang sedang kita hadapi. Tapi anak-anak belum tentu tahu itu! Dan kalo keadaan ini dibiarkan terus, mereka bisa nggak percaya sama orang-orang di sekitar mereka. Gimana nggak sedih coba...? :(


Sadar atau nggak sadar, di balik tatapan kosong anak-anak, mereka bisa menyimpan banyak luka. Mungkin kita pernah berkata kepada mereka, agar mereka mengampuni orang-orang yang telah melukai hati mereka, dan melupakan luka itu. Tapi bukan itu yang seharusnya kita katakan! (dan ya, aku baru tahu kemarin kalo ungkapan semacam itu salah -.-).

"Mengampuni bukan berarti melupakan," kata Kak Kezia saat kami (bersama pembimbing kamar lainnya) sedang sharing tentang renungan malam dengan anak-anak yang sekamar dengan kami, "karena luka itu nggak bisa kita lupakan."



Aku juga belajar di sana, bahwa memahami anak-anak itu nggak mudah. Susaaaahhh banget, karena tiap anak bisa berbeda proses pendekatannya. Ada yang bisa dideketi pelan-pelan, ada yang harus dipancing terus ke topik pembicaraan, ada yang bisa diajak ngobrol biasa, dan sebagainya. Nah lho, gimana coba -.- kudu kreatif sih ya hehe.



Efek nggak bisa pergab di RemPemCo :p wakakaka
Guys, jangan sampai kita nggak mau peduli dengan anak-anak yang di sekitar kita. Seburuk-buruknya mereka, walopun mereka punya kebutuhan khusus, mereka tetaplah ciptaan Tuhan yang istimewa. Sama seperti kita yang udah lebih dewasa daripada mereka... :) that's why, kita perlu kacamata Tuhan dalam mengasihi mereka. What would Jesus do, if He's here and seeing the children? Will He punch them, say bad words to them, or care them with His love?




Pikirkan baik-baik :)

NB: kepada adek-adek dari 'Stefanus'
Kalian keren banget lho kemarin :) Walopun kita nggak menang, tapi seenggaknya kita bisa bersikap sportif. Walopun sempet ngomel kenapa nggak menang gitu (tapi itu wajar kok :p), tapi seenggaknya seneng sih karena kalian nggak lama-lama ngambeknya hehe. Kalian berharga di mata Tuhan, dek :) Bersyukur deh bisa ketemu sama kalian. Dan semoga suatu saat nanti kita bisa ketemu lagi... :) Tuhan mengasihi kalian. Xoxo.


2 hari, 1 malam, 1 pengalaman yang luar biasa.
Bertemu dengan anak-anak yang istimewa, pantang menyerah, selalu semangat, dan punya banyak ide.
Bertemu dengan anak-anak yang kurang percaya diri, selalu ingin menang sendiri, punya masalah dengan keluarga dan teman, dan bingung ke mana mereka harus melangkah.
Ah, betapa indahnya Tuhan menciptakan mereka. Seharusnya kita yang ada di sekitar mereka selalu menjadi pendorong semangat mereka untuk tetap berjuang. Dan mengingatkan kepada mereka bahwa mereka sangat berharga di mata-Nya.
Kepada Anda yang sedang, akan, dan belum menjadi orangtua, pikirkanlah bahwa anak-anak adalah anugerah yang harus Anda didik sesuai Firman Tuhan.
Jangan menyepelekan mereka. Jangan menghancurkan semangat berjuang yang sedang berkobar dalam diri mereka. Jangan buat mereka merasa tidak dihargai.
Because they are too precious just the way they are...
#yesitisme :)


Tinggal dikit lagi. Semangattt
haphaphap


Bisa-bisanya Denny nggaya :p
FYI, dia dapet hadiah karena
dapet pin banyak (9 pin) wkwk

Belajar percaya sama pemimpin
Sebelum sesi foto dulu :p wkwk

0 comments:

Post a Comment

 

Chocolates of Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea