Search This Blog

Sunday, April 24, 2016

I've Forgiven You, though It Hurts

Akhirnya, setelah sekian lama nggak nulis di blog (secara khusus, karena di beberapa post sebelumnya aku nulis buat blog Majalah Pearl hehe), I’m back! Hahaha :p Ada yang kangen sama tulisanku kah? *lho

Kemarin waktu nulis untuk majalah itu (karena deadline-nya tanggal 10 Mei, dan tulisanku nggak jadi mulu huhu), tiba-tiba jadi inget sama peristiwa kelam yang pernah kualami beberapa tahun yang lalu, and it’s about forgiveness.
So, here is my story :)



--**--


Semua berawal dari percakapan seorang laki-laki (Q) dengan seorang perempuan (X) di akhir 2010.

Q: “Eh, kamu tahu *** nggak?”
X: “Iya, aku tahu. Kenapa ya?”
Q: “Please tell her, sorry. I’ve another people in my heart


Percakapan yang dilakukan lewat media sosial itu disampaikan X ke temannya. Dan temannya langsung mencak-mencak (baca: marah-marah), menutup telepon, serta meratapi nasib yang berkata bahwa tidak ada seorang pun yang menyukai dirinya yang jelek, dandanan seadanya, kurus seperti tusuk sate, cukup introvert bagi beberapa orang, dan merasa tersingkir dari pergaulan di sekolahnya.


--**--


Tahukah kalian, teman si X itu adalah... aku. Sedangkan Q adalah orang yang aku sukai. Rasanya cukup konyol kalo dipikir-pikir, kenapa aku bisa sangat sentimentil dengan ucapan X itu (bahkan tanpa mempertanyakan kebenarannya!!). Hahaha XD


Bisa dibilang, tahun 2010 adalah tahun yang cukup gelap buatku. Di akhir tahun itulah aku titik terendah hidup (yeah, something like that). Aku merasa bahwa banyak teman yang menjauhiku, merasa bahwa aku ini kuper dan nggak menarik, bahkan orang yang kusukai (katanya) malah menyukai orang lain! Oh, no! It’s such a nightmare for me! :(


Di tahun 2011, aku resmi menjadi anggota Komisi Remaja di gereja. Well, awalnya aku merasa nggak nyaman di situ ehehe. Kenapa? Karena rasanya... pola pikir anggota lama waktu itu beda banget sama aku dan teman-temanku yang lain. Mereka terlihat lebih dewasa. Aku merasa, ini mah nggak mungkin bisa membaur sama mereka. Duh. I’m stuck here! Hahaha :p (but finally, lama-kelamaan aku dan teman-temanku bisa membaur dan ngobrol banyak hal wkwk)


Dan di tahun itu, aku mengikuti Paska Remaja Pemuda untuk pertama kalinya. Pembicaranya Pdt. Timotius Fu (you can read it here). Intinya, di situlah aku merasakan kasih Bapa yang suaaaangaaaattttt besar! Dia nggak ngasih kasih yang setengah-setengah, but He gave it all for you and me! And my tears fallen... Aku bilang sama Tuhan, “Tuhan, ini hatiku udah kaya’ sampah. Udah rusak. Nggak bisa diperbaiki. It’s broken! Tapi aku tahu kalo Engkau Tuhan yang sanggup memulihkan segala sesuatu. So... here is my heart. Fix it, and help me to keep in holiness”. Tanggal 30 April 2011 adalah hari di mana aku menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatku secara pribadi :)


Well, bisa dibilang waktu itu aku merasa dihimpit banyak persoalan. Dan aku nggak bisa keluar dari sana! Huhuhu... di situlah my turning point. Hehe. And praise the Lord, hari itu juga aku di-follow up sama pembimbing rohaniku (sampai sekarang) :D yayy.


--**--


Ternyata pekerjaan Tuhan nggak selesai di situ aja. Di tahun 2012, beberapa bulan sebelum Ujian Nasional (UN), sekolahku mengadakan retreat bagi kelas 3 SMP (termasuk aku). Di sana, ada sesi di mana kami diharapkan bisa melepaskan pengampunan bagi teman-teman kami. Gilak, itu kaya’nya semua teman cewekku (plus beberapa orang lainnya) kumintain maaf wkwkwk... tapi ternyata bukan cuma di situ doang Dia menolongku untuk bisa mengampuni teman-temanku (or at least, pikiranku tentang mereka).


Setelah sesi pengampunan-yang-bikin-air-mata-tumpeh-tumpeh, aku memutuskan untuk konseling dengan guru agamaku (well, setelah sesi itu memang diadakan konseling bagi yang memerlukan). Dan di sanalah aku cerita semuanyaaa~~ Semua yang kurasain selama kurang lebih tiga tahun akhirnya kuceritain ke beliau :) rasanya waktu itu masih ada yang mengganjal sih, but I knew that I’d chose the right choice :) (FYI, sebelum aku cerita itu, aku nggak cerita ke siapa-siapa. Huahahaha... sok kuat, tapi akhirnya jatuh juga #lhoh :p). 

Akhirnyaaaa udah nggak ada ganjalan hati sama teman-teman (well, waktu itu aku masih merasa agak kesal gara-gara suka dipacokkin sama Q wkwk. Read at next section ya!). Jadi bisa UN dengan tenang. Yayy :D wkwkwk... praise the Lord!


--**--


Well, rasa kesalku dengan X telah terselesaikan di sesi pengampunan itu. Tapi bagaimana dengan Q? Andaikan dia memang benar-benar menolakku, then what should I do? Yeah... jelas aku harus mengampuninya. Tapi itu susah banget!

Aku inget, dulu waktu nungguin jemputan setelah ada kunjungan ke gereja lain, kami nunggu di depan gereja berdua (semacam sinetron. I think he wouldn’t remember it. Lol), dan ngobrol ini itu. Tetep aja, rasanya ada yang mengganjal hehe. Tapi kan, nggak mungkin aku ngomong, “Eh, Q. Aku mau tanya nih. Dulu kamu pernah bilang ke temenku soal kalo kamu nggak suka sama aku ya, gara-gara udah punya orang lain?”. No! I’m too embrassed to say it! Huahhahahahaha :p XD Jadi ya begitulah.


Tahun 2013, ada retreat School of Healing yang diadain buat remaja-pemuda di gereja. Acaranya 3 hari 2 malam. Dan di malam kedua, aku cerita sama pembimbing rohaniku itu (selaku mentor). Awalnya sih masih ngobrol biasa aja. Eh nggak tahunya, waktu mulai cerita soal aku-ditolak-cowok-dan-sampe-sekarang-aku-nggak-bisa-maafin-dia-lagian-aku-juga-nggak-bisa-maafin-temen-temenku-yang-macok-macokkin-aku-dulu... aku nangis :’p wakakakakaka... entah karena terbuai suasana sekitar (banyak yang curhat, nangis, doa pelepasan, dsb.), pokoknya di situ aku numpahin semua emosiku. Pembimbingku itu bilang, “Yuk, kita doa. Sebutin semua nama yang pernah melukaimu, termasuk cowok itu.”


Yaudah. Doa deh. Nama-nama mulai terucap, tapi waktu ngomong nama si Q itu susahnya minta ampun duh :p entah kenapa. Tapi setelah berjuang sekuat tenaga (dengan pertolongan Roh Kudus tentunya hehe), aku (cuma) bisa ngomong nama Q dalam hati. And... I felt free!! :) rasanya lega banget setelah doa-pake-edisi-nangis-tumpeh-tumpeh lagi. huehehehe... Dan seperti yang bisa kalian tebak, sejak itu, kalo ngobrol sama Q jadinya ya biasa aja. I know that he loved someone else, but I’m okay. Besides... (yak, nanti jadi spoiler buat cerita lain haha. I wanna keep it for a secret, ‘till today) :)


--**--



Manteman, kadang kita merasa sulit untuk melepaskan pengampunan. Tapi sebelum semuanya terlambat, I say... please. Forgive them. Mereka bisa aja nggak tahu kalo kamu punya luka batin sama mereka, tapi seenggaknya lepaskanlah pengampunan itu. Minta Tuhan untuk membimbingmu bagaimana harus mengampuni seperti yang telah Dia lakukan untukmu :)



I’d done it. And it’s your turn. I’m glad to see your story too! ^^9 Yuk, sama-sama berjuang mengampuni ya! :D




Kepada:

Tuhan Yesus, thank You, Lord, for giving the best example of forgiving. Ajar aku untuk selalu mengampuni seperti yang Engkau lakukan padaku...

Teman-teman lainnya. Maybe you dunno that I’d hurted by pacok-pacokan hehe. Tapi sekarang udah nggak apa-apa kok. Aku mengasihi kalian :)

X, hai X! Lama nggak ketemu lol. Aku masih inget waktu kita debat kusir nggak jelas, siapa yang sewot siapa yang nggak. But you know what? Aku belajar tentang mengampuni pun karena kamu wkwkwk. O ya. And I wish God will open your heart and you’ll know and trust Him personally :)

Q. Halo, Q! Mungkin kamu nggak tahu kalo suatu saat kamu muncul di tulisanku (haha). Memang sih, sampe sekarang aku nggak tahu apa yang X bilang itu bener ato nggak (kalo nggak, tolong maafkan kesalahpahamanku ini ya hehe). Tapi justru dari peristiwa kelam itu aku ditangkap oleh Sang Penebus yang hidup itu :) and I wanna say thank you because you’ve been one of the people who “worked” inside of my turning point

C’ Rika. Halo mamah! Wakakakaka... again and again, I wanna say thank you for being patient and help me to be mature in Christ :D bersyukur banget punya pembimbing rohani yang bisa jadi teladan dalam banyak hal (dan menemaniku dalam masa galau-yang-nggak-jelas lol)

Bu Seniwati (a.k.a. Bu Wati). Halo Bu! Terima kasih karena telah menjadi konselor yang menolongku untuk mengampuni oranng lain. And thank you for being my inspiration to be a psychologist :) benar kata dosenku, menjadi seorang psikolog maupun konselor itu membutuhkan hati yang mau mendengarkan. Dan Ibu adalah salah satu di antara orang itu :)


And for someone that I pray for... thank you for being my best friend and be an inspiration for me :) sangat bersyukur karena bisa mengenalmu hehe.

No comments:

Post a Comment